Bismillah, No. Artikel: 02/V/2026
TANDA AHLUSUNNAH
Mendahulukan Tauhid Sebelum yang Lain
Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah berkata,
“Di antara tanda Ahlussunah adalah mendahulukan Tauhid sebelum yang lain.” [Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunah, Al-Lalika’i]
Perkataan ini ringkas, tetapi sangat mendasar. Sebab tauhid adalah pondasi agama Islam. Ibarat bangunan, amal shalih adalah dinding, atap, dan hiasannya; sedangkan tauhid adalah pondasinya. Jika pondasinya rapuh, maka bangunan setinggi apa pun akan mudah runtuh.
Tauhid berarti mengesakan Allah dalam ibadah, keyakinan, dan ketaatan. Seorang muslim tidak hanya meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, tetapi juga mengarahkan ibadah hanya kepada-Nya: doa, tawakal, takut, harap, cinta, sujud, nazar, dan seluruh bentuk penghambaan. Inilah inti dakwah para nabi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]
Ayat ini menjelaskan tujuan hidup manusia: beribadah kepada Allah semata. Maka tidak mengherankan jika Ahlussunah sangat perhatian terhadap tauhid. Karena sebelum membahas cabang-cabang amal, adab, muamalah, bahkan perjuangan umat, seorang muslim harus memahami kepada siapa ia beribadah dan bagaimana memurnikan ibadah tersebut.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan urutan dakwah ini. Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah perkara pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah Ta’ala.” [HR. Al-Bukhari]
Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa tauhid harus didahulukan. Nabi ﷺ tidak memulai dakwah Mu’adz dengan zakat, hukum sosial, atau pembahasan cabang lainnya, meskipun semua itu penting. Beliau memerintahkan agar yang pertama diajarkan adalah tauhid. Setelah itu barulah shalat, zakat, dan kewajiban lainnya.
Hikmahnya besar. Jika tauhid kuat, maka ibadah menjadi ikhlas. Jika tauhid benar, maka amal lebih mudah diterima. Jika tauhid tertanam, seseorang tidak mudah terombang-ambing oleh syubhat, tradisi yang keliru, atau ketergantungan kepada makhluk. Ia sadar bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan menolak mudarat.
Para ulama salaf sangat menjaga prinsip ini. Mereka memulai ilmu dari akidah, mengenalkan Allah kepada manusia, menjelaskan hak Allah atas hamba, lalu mengajarkan amal-amal setelahnya. Ini bukan berarti meremehkan akhlak, fikih, atau urusan umat. Justru tauhid yang benar akan melahirkan akhlak yang baik, ibadah yang lurus, dan kehidupan yang lebih terarah.
Maka dalam mendidik diri, keluarga, dan masyarakat, jangan lupakan prioritas ini. Ajarkan anak untuk mengenal Allah sebelum sekadar mengenal aturan. Biasakan hati untuk bergantung kepada Allah sebelum bergantung kepada manusia. Perbaiki shalat, doa, rasa takut, harap, dan tawakal agar semuanya kembali kepada Allah semata.
Ikhtisar
Tauhid adalah pondasi agama dan tanda besar Ahlussunah. Semua amal membutuhkan tauhid agar bernilai di sisi Allah. Karena itu Rasulullah ﷺ memerintahkan Mu’adz agar memulai dakwah kepada Ahli Kitab dengan tauhid. Siapa yang mendahulukan tauhid, berarti ia mengikuti jalan para nabi dan manhaj para ulama salaf.
Referensi
- Al-Lalika’i, Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah. Kitab ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam pembahasan akidah Ahlussunah dan memuat banyak atsar salaf tentang prinsip-prinsip keyakinan.
- Al-Qur’an, QS. Adz-Dzariyat: 56.
- Shahih Al-Bukhari no. 7372, hadits pengutusan Mu’adz ke Yaman dan perintah memulai dakwah dengan tauhid.








Leave a Reply